001. SAHABAT, MENULISLAH…

Menulis adalah salah satu cara untuk mengikat ilmu. Kata-kata itu selalu terngiang-ngiang selalu dalam pikiranku. Karena ilmu tersebut apabila tidak diikat, dia akan hilang dan lenyap begitu saja dengan sendirinya. Bisa jadi karena lupa atau tidak diulang-ulang lagi.

Sebagai contoh misalnya dulu, mungkin beberapa tahun yang lalu, kita pernah memecahkan sebuah kasus. Nah sekarang, kita kembali menemukan kasus yang sama. So pasti dalam pikiran kita, apa ya dulu pemecahannya ya. Persis, ini betul permasalahannya. Gimanalah ya..!

Itu sebagian contoh kecil. Bisa jadi Anda menemukan sebuah karya, karena sudah lama, Anda tidak lagi menghiraukan karya tersebut. Tetapi sekarang ini karya Anda di publish orang. Dan orang tersebut tahu kalau andalah penemunya. Namun setelah orang tersebut mengkonfirmasi pada Anda, dan Anda tidak tahu ingat lagi karena sudah lama. Mungkinkah orang tersebut yakin kalau karya itu Anda penemunya?

Memang terkadang kita sering menang teori saja. Apa yang kita bantah biasanya berdasarkan teori. Namun terkadang teori tersebut tidaklah sesuai dengan apa yang ada dilapangan. Pernahkan Anda mendengar kata kata ini :

“Teori tanpa praktik bagaikan bom tidak meledak”

Sama dengan kata-kata diatas tadi, bahwa menulis itu adalah salah satu cara untuk mengikat ilmu. Tetapi kita tidak mau untuk melakukannya. Terkadang ada rasa dalam hati sifat sombong, sehingga tidak mau berbagi ilmu.

Kalau ilmu ini saya bagi, nanti orang pada tahu semua, orang tidak akan memang lagi kalau akku ini hebat? Itulah yang selalu ada pada benak kita. Padahal kita tahu kalau ilmu itu berbeda dengan harta. Harta kalau dibagi, harta kita akan berkurang tetapi kalau ilmu dibagi, akn terjadi sebaliknya. Ilmu kita akan bertambah.

Mulai dari sekarang, marilah kita mulai menulis. Tidak ada kata terlambat untuk menulis ini. Salah satu amal yang akan tetap mengalir walaupun kita sudah tidak ada lagi di dunia ini adalah ilmu yang bermanfaat.

Tulislah apa yang dirasa bermanfaat untuk orang lain, supaya kita tetap dapat imbalan setelah kita nanti hijrah ke alam lain (tidak di alam dunia ini lagi).

Dalam tahap pemula, mari kita coba untuk menulis yang gampang-gampang saja dulu.

Menulis adalah suatu kegiatan yang dibilang gampang-gampang susah. Kalau secara teori sangatlah mudah. Untuk kita sebagai pemula, para pakar akan selalu bilang, “Tulislah apa yang Anda mudah untuk dibuat. Contoh pada malam hari coba Anda tulis apa yang telah anda lakukan pada hari ini.” Akan tetapi ketika praktiknya, semua akan buntu. Baru ditulis satu atau dua kalimat, gak tau lagi apa yang akan ditulis. Dari mana memulainya, sehingga lebih banyak mikirnya dari pada menulisnya.

 

Itulah saktinya tulisan ini hehe. Kita tahu bahwa kita akan menceritakan sesuatu. Saat dituangkan tetap saja bingung dari mana saya harus memulainya. Berbeda sangat dengan kita bercerita. Saat menceritakan sesuatu sama seseorang seperti teman, kita akan lancar saja ngomongnya. Terkadang malah cerita tersebut ditambah bumbu-bumbunya sehingga bisa lebih menarik untuk di terangkan. Tetapi untuk memulai menceritakan dengan tulisan, susahnya minta ampun.

Sebagai seorang guru, kalau belum pernah menulis mengungkapkan perasaan atau menulis berita, memang sangat berat dan sangat susah untuk menulis tersebut. Guru pada umumnya menulis ilmiah yang mana tulisannya diambil dari hasil copy paste dari berbagai sumber. Memang begitulah adanya. Seperti seorang guru membuat jobsheet untuk siswa. Jobsheet itu diambil dari buku manual. Copy lalu di pastekan setelah itu disesuaikan dengan peralatan yang ada di sekolah. Kalau peralatan di sekolah agak kurang, tinggal hapus saja. 

Ini yang membuat seorang guru tidak pernah mengembangkan apa yang ada dalam pikirannya. Pada waktu kuliah dulu juga seperti itu. Membuat paper sampai menulis skripsi jarang sekali membuat tulisan yang menuangkan ide atau gagasan sendiri. Kebanyakan itu menurut pendapat ini, menurut pendapat itu, menurut pendapat para ahli dan lain sebagainya. Inilah yang membuat kita tidak pernah tahu cara mencurahkan isi pikiran kita.

Nah… Dari sekarang. Marilah kita gali kembali apa yang terpendam selama ini. Sulit memang… Akan tetapi seiring berjalannya waktu, pasti semua ini akan menjadi mudah. Bak kata pepatah, “Lancar kaji karena di ulang.” Coba niatkan dari sekarang untuk menulis setiap hari. Walau hanya satu paragraf atau lebih pendek lagi walau hanya satu kalimat, yang penting kontinyu. Jangan pernah gunakan istilah ditumpuk. Misalnya kita biasakan menulis satu paragraf satu hari, saat tidak ada ide lalu kita berjanji hari ini saya tidak menulis dulu besok akan saya buat dua paragraf sekali gus. Ini tidak kontinyu namanya, dan hal inilah yang kembali mematahkan semangat untuk tidak menulis.

Buatlah menulis itu sebagai suatu kebiasaan bukan sebagai beban. Apabila suatu kebiasaan tidak terlaksana, dalam pikiran kita pasti terasa ada yang kurang. “Apalah yang kurang hari ini ya.. Oo saya belum menulis.” Tetapi bila menulis ini dijadikan beban, setiap tiba waktu akan menulis, perasaan kita sudah mulai berkecamuk. Mau menulis apa lagi ya?

Untuk itu mulai dari hari ini, niatkanlah untuk tetap akan menulis setiap hari. Apalagi sekarang Omjay membuat tantangan menulis selama dua bulan penuh. Jangan sia-siakan kesempatan ini. Semoga dengan latihan menulis selama dua bulan penuh ini, akan menjadi darah daging bagi kita guru-guru diseluruh Indonesia, sehingga akan terciptalah guru-guru yang kompeten di bidangnya. Karena salah satu keuntungan menulis ini adalah untuk mengikat ilmu. Ilmu yang kita dapat kalau tidak diikat, dia akan lepas kembali ke alam bebas artinya kita yang sudah mendapatkan ilmu akan lupa lagi. Untuk itu supaya tidak lepas (lupa) ilmu itu harus kita ikat dengan jalan menulis.

0Shares

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top