
Senja udah hampir berlalu, namun matahari masih menyinari di ufuk barat dengan warna kemerahan. Kami baru saja turun dari atas mobil. Mobil bus yang membawa kami dari kota Padang. Sesekali aku memandangi wajah-wajah temanku. Mereka kelihatan senang sekali. Tapi aku tak tahu apa isi hati mereka. Mungkin mereka senang, karena sebentar lagi akan menaklukkan puncak Merapi, atau ada juga karena biasanya kami pergi hanya dengan kawan-kawan laki-laki aja sekarang ada kawan perempuan yang ingin ikut mendaki. Ada juga teman laki-laki itu yang pertama kali mencoba mendaki gunung.
Sebelum mendaki ini, aku sudah peringatkan ama teman-temanku itu, bahwa kita ini bukan pergi untuk hura-hura, kita bukan pergi untuk pesta pora dan dansa-dansa. Tempat yang akan kita lalui ini adalah hutan belantara.. Ini khusus untuk kalian yang pertama kali masuk hutan. Makhluk Allah ini bukan Cuma manusia saja. Ada hewan dan ada tumbuh-tumbuhan. Mereka juga makhluk hidup sama seperti kita. Disamping makhluk kasar, ciptaan Tuhan juga ada makhluk halus. Mereka juga tak ingin di ganggu. Nah itu nanti yang akan kita lewati di hutan belantara tersebut. Aku harap teman-teman yang perempuan yang ikut ini, gak ada yang pacaran dengan teman-teman cowok yang ikut nanti. Walaupun tak ada larangannya tapi tuk jaga-jaga aja. Soalnya yang pacaran rentan tuk di gangguin makhluk halus nanti disana.
Beberapa selang kemudian, terdengan suara azan magrib di kumandangkan di mesjid. Tanpa di komandoi, kami yang jumlahnya waktu itu sebelas orang dengan 4 orang perempuan dan 7 orang laki-laki, langsung berangkat ke mesjid yang tak jauh dari lokasi tempat kami turun dari Bus tadi. Setelah selesai menunaikan kewajiban, kami berkumpul di luar mesjid untuk ngobrol-ngobrol sejenak menyusun strategi dan rencana. Maka di putuskanlah untuk makan dulu bersama di kedai nasi yang tak jauh dari mesjid tersebut sampai nanti sholat isya berkumpul lagi di halaman mesjid ini.
Kira-kita jam 20.00 Wib, kami udah berkumpul lagi di halaman mesjid setelah melakukan sholat isya berjamaah. Disanalah kami pengecek persiapan, termasuk bekal dan peralatan yang udah di bawa dari Padang. Air minum harus di taruh di luar ransel, dan air ini harus di lebihkan. Kita belum tahu kalau di puncak sana ada orang yang menjual air minum. Roti dan sejenisnya yang nanti bisa mengganjal perut disaat lapar juga di siapkan. Kira-kira sekitar jam 9 malam, barulah kami memulai melangkahkan kaki untuk menaklukkan gunung Merapi yang berada di Padang Panjang ini.
Dengan bermodalkan beberapa buah senter, kami menelusuri jalan setapak untuk melakukan pendakian. Karena kebetulan hari ini hari Sabtu, banyak orang yang melakukan pendakian. Rasa kekeluargaan saat melakukan pendakian itu begitu terasa. Antara rombongan pendaki yang satu dengan yang lainnya saling tegur sapa, ramah. Kalau ada yang mendahului, pasti selalu minta izin.
Melakukan perjalanan malam ini memang tidak seindah perjalan di waktu siang, dimana kita bisa melihat keindahan alam. Sedangkan beerjalan di waktu malam hanya menatap ke depan melihat jalan. Sesekali tengok kebelakang melihat teman.
Malam semakin larut, semakin naik ke pinggang gunung semakin terasa terjal pendakian. Terkadang melewati akar kayu yang besar, yang harus bekerja sama dengan team. Bagi yang sudah sampai di atas harus menarik teman yang akan naik. Sedangkan bagi kawan yang terakhir, apabila ada kelompok lain yang akan naik, harus membantu juga orang yang pertamanya di kelompok lain itu. Begitulah seterusnya.
Pendakian ini memang butuh tenaga ekstra, herannya rekan-rekan yang cewek belum ada terdengan keluhan seperti kecapek an. Kadang ya.. berhenti sebentar, minum .. wajarlah.. ada yang ngemil sambil membuka tas ransel ngambil roti. Setelah tu melanjutkan kembali perjalanan. Kalau terlalu lama berhenti, akan susah untuk memulai lagi pendakiannya, dan juga akan terasa dingin menusuk ke tulang.
Tidak terasa, jam di tangan sudah menunjukkan jam 3 pagi. Sedikit lagi, akan sampai ke cadas gunung. Dimana cadas itu adalah bagian puncak gunung yang tidak di tumbuhi pepohonan lagi. Berarti hanya bebatuan. Dan di sana pendakian di butuhkan ekstra hati-hati karena ada batu-batu lepas. Bila pendaki yang di atas sempat menjatuhkan batu ke bawah, akan celakalah pendaki yang di bawah menerima timpukan batu tersebut. Para pendaki sudah mulai banyak yang berhenti mencari tempat untuk beristirahat sebelum mendaki cadas gunung itu. Saat kami juga mencari tempat untuk beristirahat ada salah seorang pendaki ngomong ke kelompok kami, “Bang.. cari tempat istirahat dulu, kata teman yang udah sampai di duluan ke atas, sekarang di cadas lagi badai..” Agak tersentak juga dikit tu, salah seorang anggota menjawab. “Ok, bang.. Terima Kasih informasinya.” Mungkin mereka tu bawa HT (Handy Talky). Dizaman itu kan HP belum ada..
Behentilah kami di tempat yang agak rata. Mencari tempat duduk, mencari posisi yang enjoy. Duduk agak lama ini baru terasa dingin, dan perut pun mulai terasa lapar. Di keluarkanlah bekal yang ada di dalam ransel. Di gelar di tengah-tengah, dan dimakan berame-rame sambil terbersik canda dan tawa rekan-rekan. Untung teman-teman yang perempuan membawa baju dingin yang tebal. Angin begitu terasa, dingin rasanya sampai ke tulang. Waktu pertama berhenti tadi angin yang berhembus begitu menghangatkan, karena badan masih panas berkeringat, tetapi setelah beberapa saat berhenti, angin yang bertiup masih seperti yang tadi terasa sangat dingin..
Ditempat peristirahatan ini kami menunggu sampai pagi. Menunggu sampai waktu subuh masuk. Meski azan subuh di atas gunung tidak terdengar, kami perkirakan saja kalau waktu subuh udah masuk, rekan-rekan melaksanakan sholat subuh. Dengan melakukan tayamum aja, karena sudah berkeliling di sekitar gak ada tanda-tanda ada air. Beberapa teman melaksanakan sholat subuh, yang di sayangkan masih ad juga sebahagian teman tidak mau melakukan sholat, dengan alasannya kain tidak bersih, air tidak ada.. Astagfirullah…..
Selesai melaksanakan tugas dan kewajiban tersebut serta membersihkan tempat dimana kami istirahat tadi (di saat itu kebersihan gunung masih terjaga, para pendaki darimanapun asal mereka, tidak mau membuang sampah sembarangan. Mereka mau memasukkan sampah mereka atau sampah yang mereka temui, ke dalam ransel atau kantong kresek yang mereka sediakan khusus untuk sampah. Tapi sekarang ini entahlah.. mungkin karena etika dan karakter anak-anak zaman now orang bilang.. mereka tidak peduli banget dengan lingkungan, membuang sampah sembarangan, membuang puntung rokok terserah mereka saja. Tak pernah terpikirkan oleh mereka akan masa yang akan datang, masa anak cucu mereka yang menggantikan sebagai penerus mereka. Sesuai dengan namanya anak zaman now, yang mereka pikir dan yang ada dipikiran mereka tu yang untuk sekarang /now saja), kami melanjutkan perjalanan untuk mencapai puncak gunung.